Sudah sekian hari aku berfikir keras bagaimana aku nanti melanjutkan hariku yang kini, namun ketika tiap detik aku kehilangan waktu disaat yang sama aku kehilangan teman, sahabat bahkan orang yang melahirkanku pun melaknatku. Memang aku ini orang liar, aku ini binatang jalang, ya….. seperti kata Chairil Anwar. Tapi apakah ini benar-benar harus terjadi padaku, sungguh aku tak percaya mengapa ini yang harus aku alami padahal aku tau mereka juga sama sepertiku, mereka sama sepertiku.
“ Hallo ? Charlie ? “
“ Iya, ini dari siapa ?”
“ Dari Reni, gimana sekarang dah ngerasa baikan ?”
“ Ah buatku sama aja, lagipula aku gak bakalan sembuh.“
“ O… maaf ya ! Eh gini, aku telephon kamu karma aku pengen
ngomong tentang hubungan kita, untuk sementara ini kita……..”
“ Putus ?! Itukan maksud kamu ? Udah aku ngerti kok, iya lebih
baik memang kaya gitukan, jadi kamu bisa terbebas dari aku
kan ! “
“ Enggak, bukan gitu aku cuma gak mau……”
Tut……tut….tut…… Telfon itu aku banting dengan keras. Entah kenapa aku tak sanggup melanjutkan pembicaraan ini, jadi aku putus saja telepon dari Reni
Itu adalah kali pertama dan terakhir telphone dari Reni, cewek yang selama ini menemani aku, suka dan duka. Saking sayangnya aku dengan dia, aku gak rela merusaknya. Mungkin gila memang jika aku lebih memilih “membeli” wanita-wanita jalanan daripada menggauli Reni, aku mau ia tetap terjaga hingga ia menjadi mempelaiku nanti. Namun, hancur sudah angan-anganku itu…..
***
“ Hallo ? Andi ?”
“ Iya, da apa lie ?
“ Eh aku boleh nginap di tempatmu gak ? Aku dah gak da tempat
nih, aku gak boleh pulang ma nyokap “
“ Aduh sory ni ortuku lagi kekosku, jadi tempatku lagi penuh
orang, coba telpon aja Rendra mungkin dia ada tempat”
“ O gitu…. ya dah makasih “
Ternyata Andi pun sama seperti mereka, dia tidak mau aku dekat dengannya, hal itu pasti karena penyakit sial ini. Sebenarnya aku tau tempat kosnya sepi karena aku menelfon di wartel depan kosnya, dan akupun melihat dia sedang sendirian mengutak-atik komputernya. “Oh Tuhan inikah balasanmMu ?” “Aku taubat tuhan, berikan aku kesembuhan, berikan aku tanda keagunganmu !”
Sebulan telah berlalu, namun Tuhan tak memberikan aku petunjukNya. Entah, mungkin Tuhanpun kini sudah tak peduli padaku, Dia sudah benci melihatku yang penuh dosa. Tiba-tiba tertempel di benakku sebuah ide yang sangat cemerlang. “Tuhan jika memang Kau dan semua orang telah tak sudi membimbingku, kini aku akan sebarkan virus laknat ini, akan kuberikan kepada setiap orang ! Akan kubiarkan mereka menerima nasib seperti aku, orang yang Kau buang !“
Seminggu setelah hari itu, aku mulai gencar menyebarkan virus itu. Kegiatan ini aku mulai dengan mengencani beberapa anak gadis yang akhirnya mereka juga tertular HIV, sama sepertiku. Tidak puas dengan itu akupun pergi ke Bioskop dengan membawa jarum yang telah terkena darahku, dan akupun tak lupa untuk selalu membisiki orang yang terkena jarumku itu “ Selamat bergabung di duniaku!“ Sering juga aku tinggalkan jarum itu di kursi bioskop, tentu saja agar jika ada yang duduk di tempat itu dan ia tertusuk jarum itu maka pasti iapun tertular. Kegilaanku ini tak henti sampai disini, bahkan tusuk gigi di beberapa restaurantpun aku jadikan senjata pamungkas penyebaran virus ini. Tusuk gigi yang telah aku gunakan hingga terkena darah dari gusiku kukembalikan ketempatnya seraya berharap dalam pikirku “Semoga ada orang yang terinfeksi Virus laknat ini.”
Satu setengah tahun sudah virus ini berenang di darahku, selama itu juga aku telah menyebarkan virus ini. Entah kenapa aku tak merasakan ada yang aneh bergejolak dalam diriku, seakan dosa-dosa yang aku lakukan menjadi obat penawar virus ini. Uang hasilku bekerja sebagai tukang cuci piringpun aku habiskan untuk keluar masuk bioskop. Dan kini aku hanya tinggal disebuah gubuk kecil yang aku buat dari bambu dan rapak. Sendiri, hanya kata itulah yang menemani terbit dan tenggelamnya matahariku.
Disatu hari, tepatnya pagi tanggal 29 Mei Reni datang padaku, entah darimana ia tahu tempat tinggalku ini, dan tanpa ulur sapa apapun dia lalu berkata,
“ Ayo pulang, ibumu sedang sakit dia ingin melihatmu !”
“Sejak kapan dia cemas padaku ? Kini aku sudah bisa hidup
bebas, aku bisa hidup tanpa kalian !” “ Kenapa kalian mengusik
orang jalang ini ?!”
“ Lie, aku tak bermaksud apapun. Tapi benar ibumu sakit, dia ingin
melihatmu.” Jawab Reni dengan nada sedikit terisak.
“ Sudah jangan memaksaku pulang, apa peduliku !? Dia dulu juga
menelantarkan aku ! aku muak dengan semua omongannya.”
“ Baik kalau memang itu keputusanmu, aku tak dapat
mengekangmu lagi, dan satuhal kami semua masih sayang
padamu.”
“Sayang ?! Tidak salah dengar ? Bukankah dulu kalianlah yang membuangku disaat aku butuh kalian ?” “Pergi ! Pergi !”
“Baik aku pergi, tapi terimalah, ini dari ibumu.” Reni pun pergi dengan terisak dan sesekali memalingkan wajahnya kepadaku.
Entah mengapa kini pikiranku jadi kacau, entah apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku berbahagia atas sakit yang diderita ibuku ? Dalam kebimbangan ini aku masih berfikir mengapa mereka kini jadi seperti ini, mengapa kini mereka memikirkan aku ? Tanda tanya ini makin membesar dalam benakku terlebih saat aku baca secarik kertas yang diberikan Reni.
Nak, maafkanlah Ibu. Ibu khilaf, ibu tak ingin kau seperti ayahmu. Maafkan Ibu nak, kini waktu Ibu terbatas.
Akhirnya aku sadar, “Aku akan ketempat ibu !” teriakku. Akupun bergegas menuju tempat ibuku yang berjarak kurang lebih 18 kilometer dari tempatku itu.
“ Ibu….. Ibu…… Ibu…… Aku pulang !.” Di depan kulihat seorang wanita setengah baya yang mulai beruban itu tergeletak lemas seakan nyawanya telah sampai di tenggorokan. Disampingnya duduk Reni beserta Rendra, entah mengapa mereka berdua ada disitu aku tak sempat berpikir. Dengan langkah bergegas kucium tangan ibuku itu, dan diapun membalasnya dengan tangisan haru, “Ya Tuhan inikah kekuasaanMu ? Inikah keagunganMu ? Kau dekatkan lagi kami !” Dengan nada yang sayup ibu memintaku mendekatkan telingaku dibibirnya,
“ Maafkan ibu nak, sebenarnya Ibulah yang salah, sebenarnya Ibu
sangat sayang padamu, Ibu hanya kecewa dengan takdir.”
“ Memang ibu sakit apa Ren ?” Tanyaku pada Reni.
“ Beliau terkena HIV stadium akhir, kini waktunya dapat dihitung
dengan jari.” Jawabnya dengan nada terisak sama seperti saat
pertama tadi saat kami bertemu.
“ Bagaimana beliau bisa tertular ?”
“Sebenarnya beliau sudah sejak lama mengidap penyakit itu, hal yang sama juga terjadi pada ayahmu, beliau meninggal karena virus itu. Dan kami sepakat merahasiakannya darimu namun ternyata kau yang merupakan darah dagingnya juga mengidap virus itu. Dan kini hal yang sama juga menimpa Reni, dia terkena jarum yang ada di kursi bioskop. Belakangan kami ketahui ternyata jarum itu telah terkontaminasi HIV yang telah bermutasi menjadi virus yang lebih kuat.” Jawab Rendra dengan sesekali meneteskan air mata.
“Jadi….. Ibu dengan Reni……..”
Aku tak bisa berkata apapun lagi mendengar semua itu. Ibu dan Reni, dua orang yang sangat aku cintai kini telah diambang pintu kematian, Ya Tuhan……. Masihkah kau mengujiku ?! Masihkah aku Kau beri kesempatan……..
*********
Sebuah realitas dimana kaum yang seharusnya kita perhatikan tak lagi kita perhatikan.